|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Sumber medis menyebutkan seluruh korban telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sejak gencatan senjata diumumkan Oktober lalu, tercatat sekitar 1.820 warga Palestina tewas atau terluka dalam lebih dari 1.300 pelanggaran perjanjian yang dilaporkan dilakukan Israel.
Di sisi lain, pernyataan Amerika Serikat yang menyebut gencatan senjata di Gaza telah memasuki fase kedua dinilai belum tercermin di lapangan. Serangan masih terus terjadi, sementara kondisi kemanusiaan kian memburuk, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak.
Mengutip Palestine Chronicle, otoritas Gaza menyebut Israel hanya mengizinkan masuk kurang dari separuh bantuan kemanusiaan yang telah disepakati. Dari sekitar 60.000 truk bantuan, logistik komersial, dan bahan bakar yang dijadwalkan, baru sekitar 25.800 truk yang diizinkan masuk ke Jalur Gaza.
Di Tengah Seruan Gencatan Senjata di PBB, AS Justru Siapkan Penjualan Senjata Raksasa ke Israel
PM Inggris Serukan Gencatan Senjata, Tapi Kirim Senjata ke Israel
Para pejabat setempat memperingatkan bahwa pembatasan bantuan tersebut berdampak langsung pada kondisi kemanusiaan. Kelangkaan makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan tempat tinggal menyebabkan meningkatnya kelaparan, melemahnya layanan kesehatan, serta memburuknya kondisi pengungsi yang hidup di tenda-tenda darurat.
Kementerian Kesehatan Gaza juga mengonfirmasi sedikitnya sembilan bayi meninggal dunia akibat cuaca dingin ekstrem sejak awal musim dingin. Kasus terbaru dilaporkan menimpa seorang bayi berusia enam bulan yang meninggal di tengah keterbatasan pemanas, tempat tinggal layak, dan layanan medis.