Selain itu, ketinggian hilal di wilayah Indonesia pada hari pengamatan masih berada pada rentang minus derajat. Kondisi tersebut menyebabkan hilal tidak mungkin terlihat secara kasat mata.
Pakar astronomi dari Badan Hisab dan Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, menjelaskan bahwa posisi bulan saat itu belum memenuhi syarat visibilitas. “Saat matahari terbenam, umur hilal masih sangat muda dan posisinya masih di bawah ufuk. Karena itu secara astronomis belum memungkinkan untuk dirukyat,” jelas Cecep dalam paparannya.
Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia sendiri menggunakan dua pendekatan, yakni metode hisab dan rukyat. Hisab menggunakan perhitungan matematis posisi benda langit, sedangkan rukyat dilakukan melalui pengamatan langsung hilal.
Pada tahun ini, perbedaan awal Ramadan kembali terjadi.
Swasembada Pangan dan Pupuk Terjangkau Jadi Prioritas Pemerintah
Resmi! Timnas U-23 Indonesia Dipastikan Absen di Asian Games 2026, AFC Tetapkan 16 Peserta Ini
Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada 18 Februari 2026 berdasarkan metode hisab. Sementara itu, Nahdlatul Ulama juga melakukan pemantauan hilal secara mandiri sebelum menentukan awal Ramadan. Pemerintah mengimbau masyarakat agar tetap menjaga toleransi dan saling menghormati perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan suci Ramadan.
“Perbedaan ini adalah hal yang biasa dalam penentuan awal bulan Hijriah. Yang terpenting adalah menjaga ukhuwah dan persatuan umat,” tambah Nasaruddin.**