HOME / Opini

Merekonstruksi Penanganan Fakir Miskin: Saatnya Negara Keluar dari Pendekatan Seragam

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:28:36 WIB
Editor : Rinalti Oesman | Penulis : Deslina
Merekonstruksi Penanganan Fakir Miskin: Saatnya Negara Keluar dari Pendekatan Seragam - Pekanbaruexpress
Ilustrasi/tangkapan layar medsos

PENANGANAN fakir miskin di Indonesia selama ini berjalan dalam satu pola besar yang problematik: pendekatan seragam untuk masalah yang berbeda. Fakir dan miskin diperlakukan dalam satu keranjang kebijakan yang sama, seolah keduanya memiliki kebutuhan dan solusi identik. Di sinilah letak kekeliruan mendasar yang perlu segera direkonstruksi.

Jika ditarik pada mandat konstitusi, Pasal 34 UUD 1945 secara tegas menyebut bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Kata “dipelihara” bukan sekadar retorika, melainkan penegasan bahwa negara memiliki tanggung jawab langsung, aktif, dan berkelanjutan. Namun dalam praktiknya, negara lebih banyak hadir dalam bentuk bantuan sosial yang bersifat umum, bukan penanganan yang spesifik dan terarah.
Rekonstruksi penanganan fakir miskin harus dimulai dari keberanian mengoreksi cara pandang.

Fakir dan miskin bukan hanya berbeda secara istilah, tetapi juga berbeda secara kondisi sosial dan kebutuhan intervensi. Fakir adalah kelompok yang kehilangan kapasitas untuk bertahan hidup secara mandiri. Mereka berada dalam kondisi ketergantungan yang tidak bisa dihindari. Dalam konteks ini, negara tidak bisa hanya berperan sebagai pemberi bantuan, tetapi harus menjadi penanggung jawab utama keberlangsungan hidup mereka.

Baca :

Sementara itu, miskin adalah kelompok yang masih memiliki potensi, tetapi terhambat oleh struktur ekonomi yang tidak memberi ruang. Mereka bukan tidak mampu, tetapi tidak difasilitasi. Maka, pendekatan terhadap kelompok ini tidak boleh berhenti pada bantuan, melainkan harus diarahkan pada transformasi.

Di sinilah interpretasi terhadap penanganan fakir miskin di Indonesia perlu diperbarui. Negara tidak cukup hanya “hadir”, tetapi harus hadir dengan desain kebijakan yang berbeda untuk masing-masing kelompok.


Pilihan Editor
Berita Lainnya
Pasar
Wajah
Trump Nyentil, Clooney Pindah Warga Negara
Trump Nyentil, Clooney Pindah Warga Negara...
Sabtu, 3 Januari 2026 | 15:54:52 WIB

Artikel Popular
1
3
5
politikus
Jazuli: Nilai Undang Undang Pemilu Perlu Revisi
Jazuli: Nilai Undang Undang Pemilu Perlu...
Jumat, 3 Januari 2025 | 16:30:00 WIB
Politik
Riau dan Gagalnya Mimpi Wisata
Riau dan Gagalnya Mimpi Wisata
Senin, 5 Mei 2025 | 11:59:34 WIB
Tradisi Unik yang Penuh Makna dan Keseruan
Tradisi Unik yang Penuh Makna dan Keseruan
Minggu, 16 Maret 2025 | 10:04:32 WIB
Bali Destinasi Wisata Nomor Satu di Asia-Pasifik
Bali Destinasi Wisata Nomor Satu di Asia-Pasifik
Kamis, 13 Maret 2025 | 11:56:04 WIB