|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
PEKANBARU - Hamparan luas kebun nanas menghijau di Desa Pagaruyung, Kecamatan Tepung Raya, Kabupaten Kampar, Riau. Tumbuhan dengan nama latin ananas comosus (L) merr ini tumbuh subur di lahan gambut bekas terbakar.
Bagi warga Desa Pagaruyung, dan sekitarnya, lahan gambut memiliki nilai ekonomis. Di lahan tersebut, warga desa menanam pohon nanas yang kini dikenal sebagai komoditas khas desa tersebut.
Lahan seluas 300 hektar itu dulunya ditumbuhi pohon-pohon liar yang sering jadi langganan kebakaran. Namun oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, lahan tersebut direvitalisasi hingga meningkatkan ekonomi masyarakat.
Bupati Siak Datangi PLN Demi Tuntaskan Ketersediaan Listrik di Pelosok Desa
Mengejutkan Warga, Pipa Gas Tanam PT TGI Meledak di Dusun Nibul Desa Batu Ampar
Revitalisasi ekonomi budidaya nanas di lahan gambut dilakukan sejak 2016 lalu dengan melibatkan langsung kelompok masyarakat (Pokmas). Lahan ditanami nanas jenis Moris, yang terkenal manis dengan daging buah kering dan renyah.
Sejak ditanam, perkebunan nanas itu sudah berulang kali dipanen. Selain Pekanbaru, nanas juga dipasok untuk memenuhi kebutuhan konsumen di Padang, Provinsi Sumatera Barat, Medan Provinsi Sumatera Utara dan daerah lainnya.
Masyarakat juga bisa langsung datang ke perkebunan untuk membeli nanas. Selain dijual langsung, masyarakat juga mengolah nanas menjadi keripik nanas dan selai nanas dengan mesin dibantu BRG).
Jaket Desain Khusus Bupati Siak Terjual Rp8 Juta, Donasi Korban Bencana Sumatera Tembus Miliaran Rupiah
Di desak Mundur, Raja Juli Dinilai Tak Punya Kompetensi Kehutanan
"Lahan gambut lebih cocok ditanami batang nanas. Nanas Pagaruyung dibanding daerah lain lebih manis dan enak di sini (Pagaruyung). Sudah sampai ke daerah lain," ujar Mukidin, anggota Pokmas Nanas Jaya Desa Pagaruyung, Jumat (4/4/2019).
Mukidin senang dapat meningkatkan ekonomi dari perkebunan nanas di lahan gambut. Upaya yang dilakukan BRG memulihkan lahan gambut sangat berdampak ekonomi bagi masyarakat Desa Pagaruyung.
Lahan gambut yang dikelola masyarakat di Desa Pagaruyung pernah terbakar hebat pada tahun 2016. Sejak dilakukan revitalisasi, lahan itu tidak pernah lagi terbakar.
Tingkatkan Layanan Kesehatan, PT BSP Bantu Alat Medis ke Desa Lubuk Garam
"Satu Dolar" untuk Riau: PHR Didesak Buka Kartu
"Dulu ini lahan kosong, sering terbakar. Alhamdulillah setelah ada BRG dan MPA, aman sampai sekarang. Tidak ada lagi kebakaran (lahan)," kata Mukidin.
Dari bertanam nanas, rupiah yang didapat masyarakat cukup menggiurkan. Di pasaran, nanas dijual satu gandeng yang berisi dua buah nanas seharga Rp7.000. "Kami tak main kilo, kalau tanam 20.000, panen separo karena bibit tak rata," ucapnya.
Dalam pengelolaan lahan gambut jadi perkebuna nanas, masyarakat rutin datang untuk mrelakukan perawatan. Lahan gambut jadi tetap basah dan kebakaran lahan dapat dihindari.
Ribuan Warga Padati Kampar Utara, Rela Berjalan Ratusan Meter Demi Saksikan Pembukaan MTQ ke-54
Rupiah Terdesak, Uang Orang Kaya Kini Mengalir ke Dolar
Tidak hanya Pokmas Nanas Jaya, sejumlah kelompok lain juga menanami lahan gambut dengan nanas serta tanaman lain. Mulai dari membersihkan lahan, bibit nanas, pupuk, alat pengolahan nanas juga dibantu oleh BRG.
Kepala BRG RI, Nazir Foead, menyebutkan, BRG akan terus memperluas program revitalisasi ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan gambut. Langkah ini salah satu upaya restorasi selain pembasahan (rewetting) dan revegetasi.
"Kita sadari masyarakat butuh dukungan untuk mengelola lahan gambut pertanian tanpa bakar. Membersihkan lahan, produktif dan hasil pertaniannya memberi manfaat ekonomi. Kita beri bantuan pembibitan hingga panen dan juga bantu pemasaran," jelas Nazir.
Bawaslu Kampar Berharap Lahir Kerjasama Kedua Pihak
Rekapitulasi DPB Triwulan III 2025 di Kampar Berjalan Lancar, KPU Tegaskan Komitmen Pemutakhiran Data Pemilih
Dari rapat kabinet beberapa waktu lalu, program revitalisasi akan dilanjutkan pada 2019 hingga ke depannya. Program berdampak pada perbaikan gambut sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
Nazir mengungkapkan, Presiden RI, Joko Widodo, dalam pekan hasil pertanian pernah merasakan nanas gambut dan memuji rasa nenas yang manis. "Itu nanas dari lahan gambut (di Riau)," tambah Nazir usai meninjau kebun nanas di Desa Pagaruyung.
Di Tapung, Nazir juga menyerahkan enam Surat perjanjian kerja sama Swakelola (SPKS) yang merupakan bagian dari program revitalisasi ekonomi. SPKS tersebut terdiri dari satu paket kegiatan budidaya nanas di Desa Pagaruyung, Kampar.
Cegah Keracunan! TNI Kawal Ketat Program Makan Bergizi Gratis
1.342 Mahasiswa Riau Terima Beasiswa Sawit BPDP 2025
Selanjutnya tiga paket kegiatan peternakan sapi untuk tiga Pokmas di Kabupaten Bengkalis. Satu paket masing-masing budidaya cabai di Bengkalis dan lebah kelulut di Kota Dumai.
Bupati Kampar, Catur Sugeng, keberadaan gambut memberikan manfaat bagi masyarakat. Di Kampar sekitar 191 ribu hektarnya gambut, berada Siak Hulu, Perhentian Raja, Kampar Kiri, Tambang, dan Tapung.
Lahan itu siap dikelola jadi kawasan budidaya, baik tanaman pangan maupun perkebunan. Tata kelola perizinan dilakukan sesuai instruksi presiden.
"Pemerintah daerah mengapresiasi dan mendukung upaya BRG merevitalisasi dan revegetasi lahan gambut untuk perekonomian masyarakat, melalui budidaya nanas. Semenjak ada program ini, kampar dulu marak Karhutla, sekarang hampir tidak ada lagi," tutur Catur.*