Menurut Yanuar, nominal rupiah yang besar juga membuatnya mudah “dimainkan” di pasar uang. “Kalau ringgit Malaysia 4,1 per dolar, kenaikan 1 persen berarti 0,0041 poin. Tapi rupiah di level 16.600, naik 1 persen itu 166 poin — jadi ruang mainnya jauh lebih lebar,” katanya.
Karena itu, wacana redenominasi selalu muncul setiap kali rupiah melemah tajam. “Bukan soal nilai ekonomi, tapi lebih ke sisi psikologis pasar,” tambahnya.
Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa pelemahan rupiah juga dipicu oleh melambatnya laju ekonomi nasional. Pertumbuhan kuartal III 2025 hanya mencapai 5,04 persen, di bawah ekspektasi. “Dengan tren seperti ini, pemerintah akan kesulitan mengejar target 5,2 persen tahun ini,” ujarnya.
Rupiah Ditutup Melemah Rp16.884 per Dolar AS
Tagih DBH Rp489,8 Miliar, Bupati Siak Surati Menteri Keuangan
Ibrahim memperkirakan, pertumbuhan ekonomi 2025 hanya akan berkisar 5,13 persen, sedikit di atas capaian 2024 sebesar 5,03 persen. “Tantangan terbesar bukan hanya menjaga kurs, tapi juga memulihkan kepercayaan pasar terhadap rupiah,” tuturnya. *
Sumber: republika