PEKANBARU - Belakangan ini istilah CNG mulai ramai diperbincangkan di Indonesia. Di media sosial hingga obrolan warung kopi, banyak yang menyebut CNG sebagai alternatif energi murah pengganti LPG maupun BBM. Namun di tengah ramainya pembahasan itu, tidak sedikit masyarakat yang masih bingung membedakan antara CNG dan LPG. Karena sama-sama berbentuk gas dan sama-sama digunakan sebagai bahan bakar, keduanya kerap dianggap serupa. Padahal, karakter dan penggunaannya sangat berbeda.
CNG merupakan singkatan dari Compressed Natural Gas atau gas alam yang dimampatkan. Bahan utamanya berasal dari gas bumi dengan kandungan metana yang tinggi. Gas tersebut kemudian ditekan dengan tekanan sangat tinggi agar bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun kebutuhan industri.
Sementara LPG adalah Liquefied Petroleum Gas, gas hasil olahan minyak bumi yang dicairkan dan disimpan di dalam tabung. Inilah gas yang selama bertahun-tahun digunakan masyarakat Indonesia untuk memasak di rumah tangga, mulai dari tabung 3 kilogram hingga ukuran besar untuk usaha.
Mengenal 3 Obat Covid-19 yang Bakal Diuji Coba WHO
Waisak Nasional, Upaya Mengenalkan Candi Muara Takus ke Mancanegara
Perbedaan paling terasa sebenarnya ada pada bentuk penyimpanannya. LPG disimpan dalam kondisi cair sehingga lebih praktis dan mudah didistribusikan. Karena berbentuk cair, energi yang tersimpan dalam tabung juga lebih padat. Sebab itu, tabung LPG berukuran kecil masih mampu digunakan memasak selama berhari-hari.
Sedangkan CNG tetap berada dalam bentuk gas, hanya saja dimampatkan dengan tekanan tinggi. Akibatnya, tangki penyimpanan CNG biasanya lebih besar dan jauh lebih tebal dibanding tabung LPG biasa.
Di Indonesia, pembahasan mengenai CNG mulai kembali mencuat setelah pemerintah membuka wacana penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG 3 kilogram. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, bahkan menyebut pemerintah tengah mengembangkan tabung CNG ukuran kecil untuk kebutuhan rumah tangga.
Bahlil mengatakan penggunaan CNG sebenarnya sudah diterapkan di hotel, restoran hingga sejumlah dapur program pemerintah, namun masih menggunakan tabung berukuran besar. Pemerintah kini mengkaji pengembangan tabung ukuran 3 kilogram agar lebih mudah digunakan masyarakat. Ia juga menyebut biaya penggunaan CNG diperkirakan bisa lebih murah 30 hingga 40 persen dibanding LPG karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri.
Menurut Bahlil, tingginya impor LPG menjadi salah satu alasan pemerintah mulai melirik CNG. Saat ini sebagian besar kebutuhan LPG nasional masih berasal dari impor, sehingga membebani devisa negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun. Pemerintah berharap pemanfaatan gas bumi domestik dapat mengurangi ketergantungan tersebut.
Meski demikian, penggunaan CNG di Indonesia belum berkembang pesat. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan infrastruktur. Stasiun pengisian bahan bakar gas masih sangat sedikit dibanding SPBU maupun distribusi LPG yang sudah menjangkau hampir seluruh daerah.
Di sisi lain, LPG tetap menjadi pilihan utama masyarakat karena lebih praktis. Hampir setiap rumah tangga sudah terbiasa menggunakan tabung gas untuk memasak. Distribusinya juga relatif mudah ditemukan, bahkan hingga ke daerah pelosok.
Persoalan keamanan juga sering menjadi bahan perdebatan. Banyak masyarakat khawatir terhadap penggunaan gas karena risiko kebocoran dan ledakan. Namun para ahli energi menyebut, baik CNG maupun LPG sebenarnya aman digunakan selama instalasi dan pemakaiannya sesuai standar.
Hanya saja, karakter keduanya memang berbeda. CNG memiliki sifat lebih ringan dari udara. Jika terjadi kebocoran, gas akan cenderung naik dan cepat menyebar di udara terbuka. Karena itu, risiko gas mengendap di lantai atau ruangan lebih kecil.
Sebaliknya, LPG lebih berat dari udara. Ketika bocor, gas dapat berkumpul di bagian bawah ruangan dan memicu ledakan jika terkena percikan api. Inilah alasan mengapa kebocoran tabung LPG sering memicu kekhawatiran masyarakat.
Meski begitu, bukan berarti CNG tidak memiliki risiko. Karena disimpan dalam tekanan sangat tinggi, tangki dan instalasi CNG harus memiliki standar keamanan khusus. Pemeriksaan berkala juga menjadi hal penting agar penggunaan tetap aman.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, kemunculan CNG sebenarnya memberi pilihan baru bagi masyarakat dan industri. Terlebih Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang cukup besar. Banyak pihak menilai pemanfaatan gas alam bisa menjadi solusi untuk menekan ketergantungan pada bahan bakar impor.
Namun untuk saat ini, CNG tampaknya belum akan sepenuhnya menggantikan LPG. Keduanya justru memiliki fungsi yang berbeda. LPG tetap lebih cocok untuk kebutuhan rumah tangga karena praktis dan mudah digunakan, sedangkan CNG lebih potensial untuk sektor transportasi dan industri.
Karena itu, pemahaman masyarakat soal perbedaan keduanya menjadi penting. Di tengah ramainya pembahasan energi alternatif, masyarakat perlu mengetahui bahwa meski sama-sama disebut “gas”, CNG dan LPG adalah dua jenis bahan bakar yang berbeda jauh, baik dari cara penyimpanan, penggunaan, hingga tingkat risikonya. *