|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Mantan penyuluh di Balai Pertanian Marpoyan ini mengatakan,walau bukan putra asli daerah, tapi istrinya, Nani Widiawati asli warga tempatan. Dengan bekal ilmu yang dimiliki sebagai penyuluh, serta lahan yang cukup luas kompensasi relokasi pembangunan waduk PLTA Kota Panjang yang di peroleh warga di desa saat itu, tercetuslah idenya membuat kolam ikan.
" Niat awalnya, tentu bisa meningkatkan taraf hidup keluarga kearah yang lebih baik. Dan, seiring berjalan waktu, ada keinginan besar mengembangkan wilayah kampung ini. Kemudian berembuk bersama warga desa, kami mulai mencari komoditas baru yang cocok untuk dikembangkan di lahan baru ini, akhirnya, terpilihlah ikan patin," jelas bapak 4 anak ini.
Usaha ikan Patin di Koto Mesjid sudah berjalan semenjak tahun 2000. Awalnya, sekitar tahun 1998, dia berusaha mencari jenis komoditas ikan yang cocok untuk kolam. Dimana saat itu, rata-rata hampir semua jenis ikan kolam dipelihara oleh masyarakat.
Eropa Waspada, Pernyataan AS soal Greenland Picu Reaksi Sekutu
DPR Kunci Pilkada: Revisi UU Dipastikan Tak Masuk Prolegnas 2026
" Butuh waktu yang panjang. Hampir sekitar 3 tahun proses pencariannya, yakni dari tahun 1998, 1999 hingga tahun 2000. Akhirnya ditemukanlah, bahwa ikan Patin merupakan komoditas ikan yang cocok untuk dibudidaya dan dikembangkan di Desa Koto Mesjid," ucap Suhaimi yang kini menjadi pengusaha dan penyuluh swadaya di Graha Pratama Fish.
Diawal merintis, terindentifikasi masalah pertama yang dihadapi soal pembibitan. Sehingga Suhaimi melakukan pembibitan sendiri untuk memenuhi kebutuhan bibit ikan yang dibutuhkan oleh masyarakat Koto masjid. Saat ini, paling sedikitnya sudah terdapat 8 pembenihan ikan patin yang ada di Desa Koto Mesjid.