|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
SIANG menjelang. Ketika bus rombongan kami memasuki Kampung Patin, salah satu Desa wisata yang terletak di Desa Koto Masjid, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Jalan perkampungan beraspal mulus. Kanan-kiri, rumah penduduk berdiri megah dan memiliki halaman yang luas. Setiap rumah rata-rata memiliki kolam ikan lebih dari satu.
Laporan DESLINA, Pekanbaru
Desa Koto Masjid adalah kampung yang direlokasi ke tempat yang lebih tinggi, karena dampak pembangunan waduk PLTA Kota Panjang pada 1989-1992. Desa Koto Mesjid inipun merupakan desa baru hasil pemekaran dari Desa Pulau Godang.
Eropa Waspada, Pernyataan AS soal Greenland Picu Reaksi Sekutu
DPR Kunci Pilkada: Revisi UU Dipastikan Tak Masuk Prolegnas 2026
Salah seorang pekerja di dapur pengasapan ikan Patin Desa Koto Masjid. (Foto: Deslina/PE)
"Kampung Patin, kebetulan saya yang mengusulkan namanya," jelas Suhaimi (54 tahun) sosok yang dianggap pelopor pembuatan kolam patin di kampung itu menceritakan awal mula Kampung Patin begitu dikenal, sebagai salah satu kampung wisata di Kabupaten Kampar, saat rombongan bertandang ke kolam ikan patin miliknya.
Mantan penyuluh di Balai Pertanian Marpoyan ini mengatakan,walau bukan putra asli daerah, tapi istrinya, Nani Widiawati asli warga tempatan. Dengan bekal ilmu yang dimiliki sebagai penyuluh, serta lahan yang cukup luas kompensasi relokasi pembangunan waduk PLTA Kota Panjang yang di peroleh warga di desa saat itu, tercetuslah idenya membuat kolam ikan.
2026, Dishub Akan Tambahan 16 Armada Bus Listrik TMP
Rapat Koordinasi HPN 2026, Pemprov Banten dan Panitia Mensinergikan Peran
" Niat awalnya, tentu bisa meningkatkan taraf hidup keluarga kearah yang lebih baik. Dan, seiring berjalan waktu, ada keinginan besar mengembangkan wilayah kampung ini. Kemudian berembuk bersama warga desa, kami mulai mencari komoditas baru yang cocok untuk dikembangkan di lahan baru ini, akhirnya, terpilihlah ikan patin," jelas bapak 4 anak ini.
Usaha ikan Patin di Koto Mesjid sudah berjalan semenjak tahun 2000. Awalnya, sekitar tahun 1998, dia berusaha mencari jenis komoditas ikan yang cocok untuk kolam. Dimana saat itu, rata-rata hampir semua jenis ikan kolam dipelihara oleh masyarakat.
" Butuh waktu yang panjang. Hampir sekitar 3 tahun proses pencariannya, yakni dari tahun 1998, 1999 hingga tahun 2000. Akhirnya ditemukanlah, bahwa ikan Patin merupakan komoditas ikan yang cocok untuk dibudidaya dan dikembangkan di Desa Koto Mesjid," ucap Suhaimi yang kini menjadi pengusaha dan penyuluh swadaya di Graha Pratama Fish.
Komitmen Bupati Afni, Tidak Akan Wariskan Utang kepada Pemimpin Setelahnya
Bupati Siak Imbau Sambut Tahun Baru Tak Perlu Pesta Hura-hura, Fokus Banjir
Diawal merintis, terindentifikasi masalah pertama yang dihadapi soal pembibitan. Sehingga Suhaimi melakukan pembibitan sendiri untuk memenuhi kebutuhan bibit ikan yang dibutuhkan oleh masyarakat Koto masjid. Saat ini, paling sedikitnya sudah terdapat 8 pembenihan ikan patin yang ada di Desa Koto Mesjid.
Sesuai perkembangannya, saat ini kebutuhan bibit ikan patin di Koto Mesjid sudah mencapai sebanyak 3,5 juta ekor bibit ikan patin yang dibutuhkan setiap bulannya. Pemenuhan kebutuhan bibit ikan patin tersebut diisi oleh 8 pengusaha benih ikan yang ada di Desa Koto masjid, termasuk dirinya juga terlibat dalam pembenihan ikan patin.
Pencapaian saat ini, awalnya tidak semuanya berjalan mulus, tapi melalui proses yang cukup panjang. Berbagai teknologi, dan pembinaan yang tepat dari berbagai pihak yang memiliki andil yang besar, salah satunya pembinaan dari STP Riau yang disponsori oleh PT PHR dalam menjadikan Koto Mesjid sebagai Desa Wisata.Pendapatannyapun meningkat sekitar 30 %.
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Buka Dialog Nasional SMSI: Media Baru Harus Mengarah pada Pers Sehat
PWI Dorong Pemerataan Hunian Layak bagi Wartawan, Tapera Pastikan Akses Pembiayaan Terbuka
Bagaimana tidak, Desa Wisata Kampung Patin saat ini sudah menjelma sebagai sentra perikanan yang mampu menghasilkan 15 ton patin per hari. Bahkan, itu belum sepenuhnya bisa memenuhi permintaan pasar. Walaupun, hampir semua warga memiliki kolam ikan patin lebih dari satu. Dulunya, warga desa hanya memanfaatkan sektor perkebunan karet yang bergantung pada cuaca. Jika hujan turun, mereka tidak bisa menderes karet.
"Bisa dibilang,tiada rumah tanpa kolam ikan. Dan itu sudah jadi motto Desa Koto Masjid," jelas Suhaimi.
Diakuinya, diawal budi daya ikan patin ini, masalah pertama yang dihadapi adalah masalah pembibitan. Sehingga Suhaimi melakukan pembibitan sendiri untuk memenuhi kebutuhan bibit ikan yang dibutuhkan oleh masyarakat Koto masjid.
Jejak Kontroversi Lingkungan dan Sejarah Kepemilikan Toba Pulp Lestari
Pemkab Siak Pastikan 6.323 Mahasiswa Terima Bantuan Beasiswa Tahun 2025
"Saat ini, sudah ada 8 pengusaha benih ikan ikan patin di Desa Koto Mesjid. Kebutuhan bibit ikan patin di Koto Mesjid perbulannya sudah mencapai 3,5 juta ekor bibit ikan. Warganya tidak lagi perlu jauh-jauh membeli bibit dari daerah lain, semuanya sudah tersedia di desa tersebut.
Soal harga diakui Suhaimi, bibit patin ukuran inchi, atau berusia 21 hari dihargai 140 rupiah/perekor. Satu kolom miliknya dengan ukuran 25 x 40 meter bisa menghasilkan 150 ribu bibit ikan patin. "Bibit kami sudah memiliki sertifikat dari BSNN, sebagai bukti cara pembenihan ikan patinnya sudah berkualitas baik," ucapnya.
Seiring itu pembenihan ikan patin ini juga menumbuhan sektor usaha baru, yaitu penyuplai pakan ikan. "Keuntungan kita saat ini, bisa mendapatkan bibit ikan patin yang baik, memiliki 32 pabrik pakan ikan. Sehingga, kebutuhan pakan kolam ikan patin warga terjamin. Budidaya ikan patin yang kita lakukan ini, juga mampu mengerakkan usaha rumahan. Tidak ada lulusan sekolah disini jadi pengangguran. Zerro pengangguran. Semua terserap dalam usaha UMKM yang tumbuh beriringan. Bahkan, kita malah menampung tenaga kerja dari luar, dari provinsi tetangga, Pasaman, Sumbar," jelas Suhaimi.
Pastikan Ketersedian Air ke Sawah Warga, Bupati Afni Bentuk Satgas Bersama
KPK Geledah Kantor Dinas Pendidikan Riau, Diduga Terkait Kasus Korupsi Gubernur Nonaktif Abdul Wahid
Hasil ikan patin milik warga Desa Koto Masjid saat ini,lebih banyak terserap untuk usaha kelompok UMKM yang ada di desa tersebut. Rata-rata perhari, mereka membutuhkan 12-15 ton ikan patin segar. Ikan tersebut dikelola menjadi berbagai macam produk makanan. Mulai dari ikan asap, bakso ikan, abon patin, nugget ikan, kerupuk kulit ikan dan berbagai macam produksi hilir ikan Patin lainnya.Bahkan, abon ikan Patin yang menjadi salah satu produksi hilir ikan patin, sudah menjadi dagangan ekspor ke luar negeri. Abon ikan Patin produksi desa wisata Koto Mesjid sudah laku terjual di negara Malaysia.
Hanya sekitar 5% ikan Patin yang dijual sebagai ikan segar untuk memenuhi pasar-pasar yang membutuhkan. Hasil produksi ikan Patin Koto Mesjid sudah menembus daerah-daerah sekitar Provinsi Riau. Seperti daerah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Palembang, Jambi dan daerah Sumatera Barat.
Edi Wong, toke ikan sale Desa Koto Masjid. (Foto: Deslina/PE)
Salah seorang toke Ikan Sale yang dijumpai di lokasi pengasapan ikan Patin Desa Koto Masjid, Edi Wong mengatakan, bahwa usaha pengasapan ikan Patin miliknya membutuhkan bahan baku sebanyak 4 ton ikan Patin segar setiap harinya. Dari 4 ton ikan Patin segar tersebut, bisa menghasilkan produksi ikan Patin asap sekitar 700 kg. Pengasapan ikan Patin berlangsung selama 8 jam. Semua hasil produksi ikan Patin asap tersebut sudah ada tempat menampungnya. Ada untuk dijual di pasar dan adapula untuk dikirim mengisi kebutuhan pasar di luar Provinsi Riau.
"Dilokasi ini terdapat 8 rumah produksi pengasapan ikan Patin. Rumah produksi pengasapan ikan Patin tersebut dibangun oleh pemerintah, dan dikelola oleh masyarakat. Sehingga hasil panen kolam budi daya ikan patin masyarakat dapat ditampung untuk dikelola di rumah produksi tersebut," jelas Kaur Umum Desa Koto Masjid ,Agus Salim J yang ditemui di sela-sela peninjauan di lokasi pengasapan ikan patin.
Ikon Desa Koto Mesjid
Kepala Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar, Arjunalis didampingi Kaur Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar Agus Salim J mengatakan, sebagai sebuah desa, Koto Mesjid dituntut untuk memiliki sebuah produk unggulan dengan memanfaatkan potensi desa yang ada. Potensi ikan patin, menjadi pilihan sebagai ikon Desa Koto Mesjid.
Desa Koto Masjid memiliki jumlah penduduk sekitar 2.324 jiwa, dengan jumlah 723 kepala keluarga. Mayoritas bersuku Melayu. Luas wilayahnya sekitar 425,5 hektare. Sekitar 70 persen warganya melakukan budi daya ikan patin Ada sebagai pengusaha dan ada juga sebagai pekerja. Mulai dari pembenihan, budidaya hingga usaha produksi hilir ikan Patin, seperti bakso ikan Patin, nugget Ikan Patin, kerupuk kulit ikan Patin, dan beberapa produksi hilir ikan Patin lainnya.
Senior Analyst Social Performance, Winda Damelia mengatakan, bahwa PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) berkomitmen dalam mengembangkan Desa Koto Mesjid menjadi Desa Wisata mandiri. Komitmen tersebut merupakan wujud kepatuhan PT. PHR dalam melaksanakan Program Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu perusahan badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Berupaya mendorong peningkatan ekonomi masyarakat di Wilayah Kerja (WK) Rokan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Satu upaya yakni, PHR meningkatkan keterampilan masyarakat guna menumbuhkan ekonomi yang mandiri melalui pengembangan Desa Wisata di Kampar yang hasil olahannya bisa menembus pasar Internasional.
Dalam aspek pemberdayaan ekonomi masyarakat, PHR memiliki sejumlah program untuk menumbuhkan nilai ekonomi, baik dari potensi wisata, keterampilan dan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Salah satunya pengembangan Desa Wisata Kampung Patin, di Desa Koto Mesjid, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kampar. Tujuannya, agar masyarakat di sekitar bisa berdaya dan memberikan dampak ekonomi ke masyarakat.
Selain memberikan bantuan sarana prasarana kebutuhan Desa Wisata, 80% bantuan berupa pendampingan kepada masyarakat. Mulai dari pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), seperti pelatihan tour guide (pemandu wisata), pelatihan kuliner, pelatihan homestay (rumah penginapan), pelatihan wirausaha dan UMKM, serta beberapa pelatihan peningkatan dan pengembangan SDM lainnya.
Bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Riau, PHR melakukan pendampingan yang berfokus pada peningkatan keterampilan pengembangan budi daya ikan patin, identifikasi potensi objek wisata, pemandu wisata, penginapan, souvenir (cinderamata) dan kuliner khas ikan patin.
Selain bantuan tersebut, PT. PHR juga membantu dalam memasarkan produk-produk UMKM masyarakat Koto Masjid. Selain memasarkan pada gerai yang dimiliki dan disponsori oleh PT PHR, produk UMKM masyarakat Desa Koto Masjid juga selalu dijadikan bagian isi goodie bag yang selalu diberikan oleh PT PHR kepada para tamunya dan pada iven-ivent yang dilaksanakan dan diikuti oleh PT. PHR.
Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Riau, Dr. Ir. Eni Sumiarsih, MSc mengatakan, bahwa STP Riau sudah melakukan pembinaan dalam mewujudkan desa wisata terhadap masyarakat desa Koto Mesjid semenjak tahun 2019 yang lalu. Pembinaan tersebut berbentuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism).
Penentuan Koto Mesjid sebagai binaan STP Riau telah melalui tahapan analisis dan diskusi bersama Dinas Pariwisata Provinsi Riau. Dalam mewujudkan Koto Mesjid sebagai desa wisata berdasarkan modul dari Kemenparekraf yang disponsori atau didukung oleh PT. PHR dari segi pendanaannya.
Pembinaan yang dilakukan terdiri dari pelatihan tata kelola desa wisata, Pelatihan pemandu wisata, pelatihan kuliner dan gastronomi (ilmu tentang masyarakat). Pelatihan kewirausahaan dan UMKM, pelatihan tata kelola homestay. Saat ini telah terdapat 18 homestay yang dapat melayani pengunjung untuk bermalam di Kampung Patin.
"Pariwisata unggulan Desa Wisata Kampung Patin terletak pada sektor UMKM. Produk olahan ikan patin yang paling terkenal yaitu, ikan salai patin. Wisata alam yang menjadi andalan yaitu puncak kompe, sungai gagak dan lembah aman," kata Ketua STP Riau, Dr Ir Eni Sumiarsih, MSc yang turut mendampingi kami dalam kunjungan ke Kampung Patin.
Tidak hanya itu, Dr Eni menuturkan, di Desa Wisata Kampung Patin juga telah tersedia fasilitas untuk menginap, yaitu homestay dan fasilitas kuliner yang dapat dinikmati oleh para wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Kampung Patin.
Saat ini di Desa Wisata Kampung Patin telah terbentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang menghimpun masyarakat yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk mengolah dan mengembangkan Desa Koto mesjid menjadi desa tujuan wisata.
"Pokdarwis tersebut terdiri dari pokdarwis puncak kompe, pokdarwis Sungai Gagak, serta penggiat-penggiat yang mengelola kelompok kerajinan tangan, serta kuliner khas Desa Wisata Kampung Patin. Kelompok ini merupakan masyarakat yang peduli terhadap kemajuan daerah melalui pariwisata," ungkapnya.
Dengan luas wilayah Desa 425,5 Ha dan didominasi Lahan Pemukiman, 1.295 hektare, ladang 122 ha, perkebunan 525 hektare, Kolam Ikan 98 hektare, Lapangan 1,5 hektare, lainnya 50 hektare. Kemudian, jumlah penduduk 2.324 jiwa yang terdiri dari Laki-laki 1.191 dan Perempuan 1.133 dengan jumlah KK 728, Desa Koto Mesjid terbagi atas wilayah Dusun, 18 RT dan 8 RW mayoritas masyarakat bermata pencarian petani, buruh tani.
Kerjasama dengan berkolaborasi kuat dengan seluruh stakeholder, pada tahun 2019 STP Riau berhasil meraih Juara I Pendamping Desa Wisata Tingkat Nasional dari 114 Perguruan Tinggi Bidang Pariwisata yang dilaksanakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia. Pada tahun 2020 Desa Koto Mesjid berhasil meraih Juara II Apresiasi Desa Wisata Indonesia (ADWI) bidang kuliner dengan menampilkan kuliner ikan Patin.
Pada tahun 2020 Desa Koto Mesjid mendapatkan sertifikasi SNI Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainable (CHSE). dan Pada tahun 2021 Desa Koto Mesjid mendapatkan sertifikasi SNI sebagai desa wisata berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Kampar melalui Plt. Kepala Dinas pariwisata Kabupaten Kampar, Akhyar Nur memberikan apresiasi terhadap keberhasilan yang diraih oleh Kampung Patin Desa Koto Mesjid sebagai Desa Wisata. Kolaborasi yang baik dari semua stakeholder membuahkan hasil untuk peningkatan ekonomi masyarakat Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar.
"Pemerintah Kabupaten Kampar memberikan apresiasi yang tinggi kepada PT PHR dan STP Riau yang telah memberikan pembinaan dan bantuan kepada masyarakat desa Koto Mesjid menjadi desa wisata. Keberhasilan Koto Mesjid sebagai desa wisata diharapkan mampu menjadi motivasi dalam mengembangkan 130 lebih destinasi wisata dan 69 destinasi wisata religius yang dimiliki Kabupaten Kampar," ucapnya. (DL)