|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Deslina | Penulis : can/arh
JAKARTA-- Platform media sosial yang berfokus pada bisnis dan pekerjaan LinkedIn mengungkapkan Indonesia mendapat nilai tertinggi dalam hal mengadopsi kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja.
Hal itu terungkap dalam riset konsumen global mengenai AI di tempat kerja, dikutip dari Mashable. Indonesia, yang merupakan rumah bagi lebih dari 270,20 juta penduduk, dinilai telah siap mengintegrasikan AI dalam pekerjaan sehari-hari.
Penelitian ini dilakukan oleh firma survei publik yang berbasis di London, Inggris Censuswide. Pihaknya mensurvei 29.000 pekerja di atas 16 tahun di seluruh dunia pada 23 dan 30 Agustus 2023.
Sebanyak 6.624 responden berasal dari Asia Tenggara, di antaranya Singapura sebanyak 2.009 responden, Malaysia 1.513, Filipina 1.527 responden dan Indonesia 1.575 responden.
Borok BUMD Riau Terungkap, Eks Direksi PT SPR Diduga Tilep Rp33 Miliar!
Kejati Kepri Geledah Kantor Jasa Kapal Batam, Ungkap Dugaan Korupsi Rp4,4 Miliar
LinkedIn menilai sebagian besar profesional di Asia Tenggara percaya bahwa AI akan mengubah cara kerja mereka secara signifikan. Berikut rinciannya:
- Indonesia (78 persen)
- Filipina (76 persen)
Terungkap! Rekening Dorman Pengusaha Tanah Dibobol Sindikat, Raib Rp204 Miliar di BNI
Formappi: KPU Jadi Penyebab 211 Anggota DPR Tak Ungkap Pendidikan
- Malaysia (70 persen)
- Singapura (65 persen)
Di samping itu LinkedIn juga mengungkapkan lingkup pekerjaan yang sudah menggunakan AI dalam dunia profesional. Berikut rinciannya:
Prabowo Akan "Bongkar Ulang" Polri, Natalius Pigai Ungkap Langkah Mengejutkan
Ratusan Ribu Rekening Dormant Terungkap, Celah Kejahatan Keuangan Makin Terbuka
- Indonesia (72 persen)
- Singapura (56 persen)
- Filipina (55 persen)
Busa Limbah Terbang di Atas Pemukiman, Warga Desak Pemerintah Ungkap Hasil Sidak RAPP
28 Ribu Rekening Diblokir, PPATK Ungkap Skandal Jual Beli Rekening Judi
- Malaysia (51 persen)
LinkedIn mencatat bahwa orang Indonesia adalah individu yang paling aktif dalam memanfaatkan AI di tempat kerja.
Para profesional mengungkapkan bahwa perusahaan mereka telah memperkenalkan pedoman atau rencana pelatihan untuk mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan sehari-hari dan Indonesia menjadi negara paling duluan memulai.
Riset Ungkap Orang Narsistik Pilih Jadi Objek Gosip daripada Tak Dianggap
Fasilitas UPT Puskesmas Sinaboi Bersih, Wakil Bupati Rohil Ungkapkan Rasa Kagum
Di samping itu LinkedIn juga mengungkapkan deretan negara yang khawatir terhadap perkembangan dari AI. Berikut persentasenya:
- Singapura (48 persen)
- Malaysia (43 persen)
Kemenhub Ungkap Indonesia Airlines Belum Ajukan Izin Penerbangan
Menpan RB Ungkap Alasan Penundaan Pengangkatan CPNS 2024
- Filipina (41 persen)
- Indonesia (30 persen)
Selain itu LinkedIn juga mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi negara yang paling tidak takut berbicara tentang bagaimana AI akan berdampak pada pekerjaan mereka. Berikut rinciannya:
- Indonesia (96 persen)
- Filipina (84 persen)
- Malaysia (80 persen)
- Singapura (77 persen)
LinkedIn mengatakan bahwa hal ini menunjukkan para profesional siap untuk menerima kemungkinan adanya tenaga kerja campuran di masa depan, di mana manusia dan AI bekerja berdampingan.
Pakar Karier dan Kepala Editorial, Asia Pasifik di LinkedIn Pooja Chhabria mengatakan perkembangan AI telah membuka jalan bagi para profesional di Asia Tenggara, untuk bekerja dengan cara yang berbeda dengan keterlibatan AI.
"Perkembangan AI, terutama AI generatif, telah mengubah cara pandang para profesional terhadap cara bekerja di masa depan," kata dia kepada Mashable Asia Tenggara.
"Meskipun untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ini bisa jadi cukup menantang, para profesional di Asia Tenggara menyambut baik kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh AI, baik untuk mempermudah pekerjaan mereka, maupun untuk memajukan karier mereka," ujarnya.
Para profesional Indonesia mendapatkan skor tertinggi (55 persen) dalam hal mempelajari keterampilan baru setelah AI membantu menghemat waktu mereka di tempat kerja.
Filipina berada di posisi kedua dengan 51 persen, diikuti oleh Malaysia (50 persen) dan Singapura (44 persen).
Sebanyak 56 persen orang Indonesia mengincar pekerjaan yang kreatif dan strategis, diikuti oleh orang Malaysia (48 persen), Filipina (42 persen), dan Singapura (40 persen).
Selain itu profesional asal Indonesia dan Filipina percaya bahwa AI akan menciptakan lapangan kerja yang setara bagi semua orang terlepas dari kualifikasi pendidikan mereka.
Namun, penting untuk dicatat bahwa temuan ini belum bersifat konklusif karena hanya profesional dari empat negara Asia Tenggara yang disurvei.
Meski begitu, penelitian ini boleh jadi sebagai cerminan tentang apa yang dipikirkan oleh para individu di kawasan Asia Tenggara tentang AI dan fungsinya di tempat kerja.
sumber: CNNindonesia