POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR
HOME / Riau

Air Pasang, Ancaman Sang Primadona Indragiri Hilir, Bernama Kelapa

Mimpi dan Kerisauan, Menyerah Memburu Receh dari Tumpukan Buah Kelapa

Sabtu, 8 April 2023 | 15:42:34 WIB
Editor : Rinalti Oesman | Penulis : Deslina
Mimpi dan Kerisauan, Menyerah Memburu Receh dari Tumpukan Buah Kelapa - Pekanbaruexpress
Perkebunan kelapa terbesar di Riau, terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Foto: int

Kawasan perkebunan di Riau tercatat 11,4 persen merupakan komoditas kelapa. Dari luas total perkebunan 3.731.183 hektare, sekitar 426.579 hektarenya merupakan tanaman kelapa. Kebun kelapa terbesar di Riau, terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), yaitu sebesar 341.762 hektare. Lebih dari 60 persen wilayah darat kabupaten ini adalah kebun kelapa. “Tak aneh jika  Kabupaten Indragiri Hilir dijuluki ‘Negeri Seribu Parit, Hamparan Kelapa Dunia’.

Penulis Deslina, Pekanbaru.

KABUPATEN Indragiri Hilir adalah, salah satu Provinsi di Kabupaten Riau. Memiliki 20 kecamatan, 39 kelurahan dan 197 desa. Luas wilayahnya mencapai 12.614,78 km² dan jumlah penduduk 658.025 jiwa (BPS September 2021,red )dengan sebaran 49 jiwa/km². Dari luas kabupaten ini.

Baca :

Kabupaten yang  dijuluki ‘Negeri Seribu Parit, perkebunan adalah sebagai basis ekonomi wilayahnya. Perkebunan kelapa yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir secara umum merupakan kelapa rakyat seluas 461.310 hektare dengan produksi sebanyak 592.811ton Kopra/tahun dan melibatkan sebanyak 120.188 kepala keluarga petani.

Tiga kecamatannya memiliki hamparan areal perkebunan kelapa terluas di Kabupaten Inhil, ialah Kecamatan Mandah merupakan Kecamatan yang memiliki perkebunan paling luas dari 20 Kecamatan di Inhil dengan luas 55.216 hektare, diikuti oleh Kecamatan Enok dan Kateman dengan luas masing - masing 44.753 hektare dan 37.739 hektare. 

Tumpukan buah kelapa di salah satu kebun kelapa milik petani

Baca :

Tiga kecamatan ini mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, baik itu sebagai petani tanaman pangan, petani hortikultura maupun sebagai petani perkebunan, salah satunya perkebunan kelapa yang menjadi sentra perkebunan terbesar di Indonesia.

Untuk mencapai Kecamatan Mandah, daerah yang memiliki perkebunan terluas di Inhil dari Kota Tembilahan(ibu kota Kabupaten Inhil,ed) berjarak sekitar 50,4 Km dengan jarak tempuh lebih kurang 1,5 jam, tak terlalu sulit."walau satu-satunya cara hanya memakai transportasi air. Namun, setiap hari ada saja speed boat yang melayari Kecaman Mandah-Tembilahan. Bahkan pompong (sampan motor,ed), jumlahnya ada puluhan di sana." sebut Zul, salah satu tetangga depan rumah yang asli orang Mandah. 

Sekilas, begitulah keadaan Kecamatan Mandah, tak tanggung-tanggung terlihat areal hamparan luas kebun kelapa di setiap desanya. Hamparan luas kelapa jenis anak dalam, hingga jenis kelapa hibrida. Semuanya, sangat indah di pandang mata.

Baca :

Apalagi, bila kita naik pompong datang dari Tembilahan menuju ke Kelurahan Khairah Mandah sepanjang halaman, kanan kiri belakang rumah penduduk dikeliling pohon kelapa. Bahkan, nyaris tak ada tanaman tumpang sari maupun tanaman buah-buahan tumbuh di areal perkebunan mereka. Sehingga, kebun itu terlihat terang."sukar tumbuh, dan kalaupun hidup, tak subur dan tak banyak buah,''jelas Zul.

Di Kecamatan Mandah ini kelapa yang ditanam di perkebunan ada jenis Kelapa Dalam yang memiliki luas 34.343 hektare, dengan potensi produksi hasil 31.458.688 kilogram (Semester II,Data Disbun Inhil 2019). Sedangkan perkebunan kelapa jenis Kelapa Hibrida di Kecamatan Mandah memiliki luas 230 hektare, dengan potensi produksi hasil 460.000 kilogram (Semester II).(Data Disbun Inhil 2019).

Di Kecamatan Mandah terdapat 7.946 KK yang memiliki perkebunan Kelapa Dalam, diantaranya di Kelurahan Khairiah Mandah.Sedangkan untuk perkebunan kelapa jenis Hibrida terdapat 93 KK pemiliki perkebunan kelapa jenis Hibrida di Kecamatan Mandah.Untuk jenis Kelapa Hibrida,Kecamatan Mandah berada pada nomor 13 dari 20 Kecamatan di Inhil yang memiliki perkebunan paling luas jenis kelapa hibrida.

Baca :

Perkebunan kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir mengalami penurunan, dimana luas lahan berada di bawah 400.000 hektare. Penyebab penurunan luasan tersebut dikarenakan pengelolaannya yang kurang produktif, banyaknya tanaman yang sudah tua dan rusak yang seharusnya diremajakan, banyaknya petani yang beralih ke komoditas sawit dan ada sebagian perkebunan petani yang masuk dalam kawasan hutan sehingga menjadi kendala dalam pelaksanaan program replanting. Bahkan di Kecamatan Mandah,perkebunan kelapa semakin terancam, akibat intrusi air laut. 

Mimpi dan Kerisauan

Banyak masyarakat yang dulu perkebun, kini hanya bekerja sebagai buruh congkel, lansir dan membersihkan jambul kelapa, seperti nasib Yanto (53 tahun). Meskipun masih berusia 53 tahun, Yanto terlihat lebih tua dari usianya. Pria asal Mandah yang dulunya petani kelapa ini memilih bekerja sebagai buruh pembersih jambul dan pencongkel kelapa di salah satu pengumpul di Desa Pulau Palas, Kecamatan Tembilahan Hulu, Indragiri Hilir. 

Baca :

Sebagai petani kelapa di Mandah. Dia memiliki 22 baris pohon kelapa (1 baris 37 pohon,red). Namun pohon kelapanya kini, tidak lagi menghasilkan dan hancur kena banjir. Dia belum mengecap'manisnya' usaha sebagai petani kelapa yang ditanamnya. Hari ke hari, hasilnya belum bisa memenuhi kebutuhan pangan dua anak dan istrinya. Sementara kebutuhan sandang terpaksa sedikit dikesampingkan. 

"Kalau terus bertahan di kampung bertani, tak makan. Kalau jadi buruh ini, asal ada kelapa dan datang lebih pagi. Kita bisalah mengumpulkan receh lebih banyak. Kalau kelapa banyak, bisa dapat Rp50 Ribu sampai Rp75 ribu sehari. Upah membersihkan jambul satu kelapa Rp50 perak. Selain bersihkan jambul, bisa juga mencongkel, melansir dan menjemur serta membelah kelapa. Upahnya itu berbeda-beda.Kalau mencongkel kelapa, 1 pikul upahnya Rp30 ribu," jelas Yanto sambil menyeka keringat yang meleleh.

Selain Yanto, ada pasangan suami istri, Ahmad Syahri (48) dan Yuliana (29) yang menjalani profesi sebagai buruh pencongkel kelapa. Pasangan suami istri yang memiliki satu anak ini, juga mengantungkan hidupnya sebagai buruh kelapa. Ahmad Syahri, pria asal Sumatera Utara ini, memilih bekerja mengikuti istrinya yang telah lebih dulu menjadi buruh.

Baca :

" Kalau bekerja bersama di sini, pahit-pahitnya kalau kelapa lagi banyak, bisalah berdua dapat Rp100 ribu/hari," jelasnya. Upah itu dia peroleh, dari berbagai kegiatan yang bisa dilakukannya dari pagi hingga sore hari. Dari mulai membersihkan jambul, membelah, mencongkel, melansir hingga menjemur kelapa.

Dapat Alokasi Replanting

Sekretaris Dinas Perkebunan Kabupaten Indragiri Hilir, Abdurrahman mengatakan, perkebunan kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir mengalami penurunan, dimana luas lahan kini berada di bawah 400.000 hektare, atau sekitar 341.762 hektere. Sebanyak  67 persen penduduk mengandalkan hidup dari hasil kelapa.

Namun kenikmatan hidup masyarakat dari hasil kelapa, semakin mulai meredup. Sudah banyak pohon kelapa yang berusia tua, sehingga ikut menjadi faktor turunnya harga jual. Tak sedikit pula tanaman kelapa yang rusak akibat serangan hama dan rusaknya drainasi. Air yang terlalu lama menggenang membuat akar rusak sehingga mematikan pohon kelapa.

Penyebab penurunan luasan tersebut dikarenakan pengelolaannya yang kurang produktif, banyaknya tanaman yang sudah tua dan rusak yang seharusnya diremajakan, banyaknya petani yang beralih ke komoditas sawit dan ada sebagian perkebunan petani yang masuk dalam kawasan hutan sehingga menjadi kendala dalam pelaksanaan program replanting. Sebab, Pemkab Inhil harus mengajukan izin dulu ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Bahkan di Kecamatan Mandah,perkebunan kelapa semakin terancam, akibat intrusi air laut.

Terkait kondisi , jelas Abdurrahman, Pemkab Inhil sudah melakukan perbaikan tanggul sepanjang 1.000 kilometer untuk melindungi kebun kelapa petani. Bahkan, juga membuat akses jalan. Selama ini kelapa dibawa dengan perahu, sehingga costnya jadi semakin tinggi.

Bahkan dikatakannya, sepanjang tahun 2021, Kabupaten Indragiri Hilir mendapatkan alokasi replanting atau peremajaan tanaman kelapa seluas 200 hektare, 100 hektare merupakan program bantuan dari peremajaan tanaman kelapa lewat APBN, dan 100 hektare bersumber dari APBD. 

"Kelapa dari bibit yang tidak bagus, tentunya turut mempengaruhi kualitas buah sehingga menyebabkan turunnya harga. Selain itu, rantai pasar yang panjang pun jadi penyebab murahnya harga dari petani," kata Abdurrahman.

Perusahaan Putus Mata Rantai Pasar

Terkait murahnya harga kelapa di tingkat petani, dan rantai pasar yang panjang, Humas PT Pulau Sambu, Ahlim Ginting, mengatakan untuk mengurangi rantai pasar yang panjang, PT Pulau Sambu sudah berusaha membuat tempat penampungan langsung kelapa dari masyarakat. Namun karena kapasitas produksi minyak goreng yang tidak besar, PT Pulau Sambu hanya mampu menampung 1.000 kilogram kelapa petani. Padahal kapasitas produk dari petani mencapai 5.000 kilogram.

Kelapa masyarakat yang tidak laku terjual ke pabrik, masih tetap diserap pasar. Yakni dengan dibawa ke Pekanbaru, kawasan sekitarnya, bahkan juga sampai ke Jakarta dan dikirim ke Malaysia.

Lesunya perkelapaan di Inhil, menurut Ginting, juga karena selama ini kelapa hanya dijadikan sebagai bahan baku minyak goreng. "Akibatnya banyak industri minyak goreng yang tutup," katanya.

Padahal, menurut Ginting, harus ada diversifikasi usaha. Seperti PT Pulau Sambu yang memproduksi santan kelapa dan nata de coco dari bahan baku air kelapa. Menurut Ginting keduanya kini jadi produk unggulan perusahaan.

Ginting juga mengatakan hingga saat ini belum ada tata niaga kelapa seperti di kelapa sawit. Di kelapa sawit pemerintah menentukan harga eceran tertinggi (HET) buah sawit. Sedangkan harga kelapa tergantung sepenuhnya kepada pasar.

Menurut Ginting, harga kelapa bisa naik kalau ada permintaan pasar yang besar, terutama dari luarnegeri. Namun, sangat disayangkan untuk ekspor hingga kini belum ada bea keluar atau pajak ekspor kelapa, sehingga tidak menjadi sumber pemasukan bagi negara. Karena itu Ginting berharap pihak luar negeri membangun industri pengolahan kelapa di Riau. Ini akan memberikan nilai tambah baik dari tenaga kerja, pajak, dan lainnya.

Sejarah Kelapa

Di Indragiri Hilir ternyata panjang. Kelapa sudah mulai dikenal sejak zaman Hindia Belanda. Kabupaten ini  dikenal sebagai penghasil kelapa terkemuka, bahkan sampai saat ini. 
 
Pada tahun 1918, Mufti Indragiri Tuan Guru Syekh Abdurrahman Shiddiq bersama keluarga dan muridnya membuat parit-parit untuk mengatur sirkulasi air pasang dan surut air laut. Sekrang di kenal sebagai sistem kanalisasi.

Parit atau kanal berfungsi menyuplai kebutuhan air bagi tanaman kelapa agar tidak kekurangan air saat kemarau dan tidak terendam saat air pasang atau hujan. Kanal juga digunakan sebagai sarana pengangkut kelapa.

Sejak saat itu, sistem kanalisasi secara turun temurun dilakukan oleh masyarakat. Hasil produksi di perkebunan kelapa pun mulai meningkat.

Sampai saat ini, bagi masyarakat Indragiri Hilir kelapa tak hanya sebagai primadona sumber ekonomi masyarakat, tapi lebih dari itu. Kelapa menjadi identitas dan jati diri Kabupaten Indragiri Hilir hingga dijuluki “Negeri Seribu Parit, Hamparan Kelapa Dunia”.

 


Pilihan Editor
Berita Lainnya
Solo
Kasus Kuota Haji Seret Nama Jokowi, Mantan Presiden Buka Suara
Jumat, 30 Januari 2026 | 21:54:35 WIB
Riyadh
MBS Tegaskan Saudi Tak Akan Jadi Basis Serangan ke Iran
Jumat, 30 Januari 2026 | 21:46:43 WIB
riau
Pemkab Siak Gandeng ICEL Review Perizinan Konflik Hutan dan Lahan
Kamis, 29 Januari 2026 | 16:16:40 WIB
Pasar
Wajah
Trump Nyentil, Clooney Pindah Warga Negara
Trump Nyentil, Clooney Pindah Warga Negara...
Sabtu, 3 Januari 2026 | 15:54:52 WIB

Artikel Popular
1
2
5
politikus
Jazuli: Nilai Undang Undang Pemilu Perlu Revisi
Jazuli: Nilai Undang Undang Pemilu Perlu...
Jumat, 3 Januari 2025 | 16:30:00 WIB
Politik
Riau dan Gagalnya Mimpi Wisata
Riau dan Gagalnya Mimpi Wisata
Senin, 5 Mei 2025 | 11:59:34 WIB
Tradisi Unik yang Penuh Makna dan Keseruan
Tradisi Unik yang Penuh Makna dan Keseruan
Minggu, 16 Maret 2025 | 10:04:32 WIB
Bali Destinasi Wisata Nomor Satu di Asia-Pasifik
Bali Destinasi Wisata Nomor Satu di Asia-Pasifik
Kamis, 13 Maret 2025 | 11:56:04 WIB